Inilah aku, dengan segala kondisiku, dengan segala kekuranganku. Aku, yang mungkin tak pernah kau harapkan hadir dalam hidupmu, yang hadir hanya untuk memperkeruh hidupmu. Aku tak pernah meminta dirimu untuk memahami dan memaklumi segala kekuranganku. Dengan sisi kepekaanku yang mungkin, jauh dari kata normal. Sekarang, mungkin iya kau terima dengan suka rela, atau dalam andai ku, setengah hati kau terima. Apakah masih tetap iya untuk waktu yang akan datang?
Entah sampai kapan hal itu akan bertahan. Suatu saat, dirimu akan bosan, jenuh, dengan aku, dengan segala kekuranganku yang perlahan mulai tak bisa kau terima terus - menerus. Menuntut segala sesuatunya, aku paham dan mengerti hal itu pasti akan terjadi, cepat atau lambat. "Nyaman", sebuah kata yang dulu bisa mereduksi semua keterbatasan ini, mulai tak menampakkan kekuatannya. "Malu", "takut", "resah", itulah kata yang selalu terlintas dalam pikiranku. Ini semua seperti bom waktu bagiku. Berusaha dan berharap, hanya itulah yang bisa aku lakukan. Eksekusi akhir, semua ada pada dirimu, dan akupun hanya bisa menerima. Tak patut untuk memaksa, karena kembali pada posisi awal, aku bukan siapamu. Jika pada akhirnya, Tuhan tak mengharapkan kita bersama, sebuah kata dimana semua orang tak pernah menginginkannya, yang tiba waktunya untuk hadir diantara kita, yaitu "perpisahan". Apalah dayaku untuk menolak, mengingkari, aku hanya bisa menerima dengan ikhlas dan terus berharap keadaan akan kembali membaik. Inilah andaiku, inilah yang selalu hadir dalam pikirku, yang semua ini tak pernah aku harapkan ada dalam perjalanan hidupku. Kembali aku hanya bisa berandai - andai, semoga tak akan pernah terjadi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar